Garam (mineral) dari hasil pengeringan cairan lumpur dari Bleduk Kuwu


Desember 4, 2010.

"Pokoknya jangan sampai lewat Magelang tengah hari kalau tidak kecegat hujan”, pesan singkat itu aku baca ketika masih menunggui mioku yang masih dioperasi di bengkel Yamaha seputaran Jakal.


Mio-pun Bernyawa

Disaat Kilometer telah menunjukkan angka 35.000KM maka merek dagang itu tidak lagi melindungi segala kerusakan mesin yang timbul, ditambah dengan pengecekan berkala untuk mengganti oli mesin dan oli gear otomatis mio dan juga rasanya aku tidak Mio-siawi setelah naik turun merapi saat menjadi relawan pastinya filter udara padat dengan abu vulkanik yang disinyalir terdiri dari butiran tajam pembuat bahan kaca yang bisa melukai paru-paru manusia, apa jadinya dengan mesin motorku? Rasanya Mio-ku itu mempunyai nyawa yang tahu kalau aku sangat telaten merawatnya sejak aku timang dia tahun 2006 silam.

Alhasil, 900 ribu lebih kocek yang harus aku keluarkan untuk mengganti spare part utama yang berfungsi memutar roda belakang motor otomatis ini, dan spare part lainnya + operasi kecil mesin.
Sudahlah, aku tidak akan cerita tentang mesin. Meskipun aku tertarik dan faham sedikit mengenai mesin, tapi bukan porsi untuk diceritakan disini.

Sebuah Perjalanan Jogja-Semarang Yang Mahal

Yang pasti biaya bengkel + bensin ke Semarang dari Jogja harus ditebus lebih dari 1 juta. Tapi itu hanya sebuah angka yang tak berarti ketimbang mahalnya pengorbananku untuk dia. Cinta memang memerlukan pengorbanan yang mahal, bukan hanya masalah materi yang telibat tapi hal lain yang tak nampak, tapi itu adalah resiko yang aku harus ambil! Toh hidup tanpa resiko itu tidak asik, layaknya naik mioku yang dibesut diatas 100KM jam 11 malam di ringrod, ga asik sumpah! Meski cepet sampai tapi tidak ada cerita lika liku maupun gonjangan yang dirasa.

Ini kali kedua aku berkunjung ke tempat dia, dalam arti khusus menumbuh-kembangkan rasa yang masih tersisa ini. Rasanya koq aku menjadi orang lain yang ditarik oleh magnet emosi yang dihasilkan oleh hati dan jiwa.

It's not me! But it happened

A Drama-Queer Story

“Kamu jangan marah ya, aku mau bilang sesuatu”, dia berbisik di telingaku. “Aku sebenarnya sudah punya pacar, baru 2 minggu jalan”.

“Oh Ya?” celetuk-ku “trus?”, hanya itu yang keluar dari mulutku. I am not surprised!

“Tapi aku lagi bermasalah sama dia, ternyata dia punya pacar empat, dua orang berumur diatas 30an yang sudah mapan, dan dua lagi seumuran aku, dan aku dengar kalau sebenarnya kita yang seumuran nggak direken, alias cuma buat fun”.

“Katanya alasan ekonomi”, dia berhenti. Ada sebuah kemarahan dan kekecewaan dalam raut mukanya yang aku lihat meski tidak secara langsung aku tatap mukanya.

Belaian tanganku diatas rambut dia yang dipotong pendek sedikit memberikan kedamaian. Aku tahu dia paling suka dibelai rambutnya.

Cinta itu tak Bersyarat
Memang. Tapi racun.
Hening. 
 
Aku pura-pura tak mengacuhkannya. Pura pura tertidur pulas karena kelelahan berkendara motor tengah Jogja-Semarang dengan sepanjang pejalanan diguyur hujan tak pernah henti.
Aku mencoba menenangkan diri. Menahan untuk tidak bertindak bodoh, yang hanya akan mempersulit keadaan.

Tapi lacur! Apa hendak dikata.

Run-Away-Bride

Jam menunjukkan lewat jam 5 sore. Dia belum kembali ke kost-nya dan meningggalkanku sendiri. Terakhir sekitar satu jam lalu dia pamit mau menguntit pacarnya itu. Menjadi spionase untuk dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa alasan pacarnya tidak banyak waktu banyak untuk dia karena harus berbagi dengan ketiga pacar lainnya.
Dia bilang dia sudah tahu ketiga pacar lainnya itu pacarnya itu, siapa dan dimana.
OK! STOP. Coba aku sedikit beristilah supaya tidak bingung.
R = Dia (yang aku kunjungi berharap R jadi pacarku)
X = Pacarnya R yang baru jadian dan mempunyai 4 pacar termasuk R

So, R sudah beberapa hari meng-analisa facebook si X. Posting apa dan sesiapa yang mengomentari dengan “ciri khusus”, dan si R sudah mempunyai hasil analisa tersebut.

R memang smart! Supel bergaul. Makanya aku pikir, aku dan R mempunyai kapasitas pribadi dan intelejensi yang sama. Tapi ternyata cinta tidak bisa diaplikasikan dengan tingkat skoring yang aku kriteriakan. Aku kembali salah menilai cinta! “FUCK”.

Segera kukemasi backpack dan segala “peralatan tempurku”, aku mengistilahkan seperti itu. Notebook, ponsel, charger, amenities bag, Senter, dll.

It's all set!

Perutku sebenarnya belum tersentuh makanan padat seharian itu, kecuali sepiring pecel Madiun sewaktu aku menunggui Mio di Bengkel pagi tadi. Dan perutku berbunyi meminta diisi! Ah Syukurlah, ternyata sistim tubuhku tak terpengaruhi oleh emosi jiwa yang tak masuk logika, aku lebih percaya sesuatu yang memang nyata harus dikasih perhatian.

Berbekal tekad! Disertai nalar orientasi wilayah dan peta serta rambu rambu lalulinta. Aku pacu Mioku dengan kecepatan tinggi menginggalkan Semarang Atas, ke Semarang bawah lalu berbelok mengarah ke timur utara. PURWODADI

R Pernah bilang kalau dia pernah iseng, sewaktu pulang ke Jogja dia memutar kearah Semarang – Purwodadi – Solo – Jogja dan R bilang kalau jalannya aneh, bahkan dia sempat mau tertimpa truk yang miring dan oleh saat menyalip truk di sebuah tikungan mengarah kanan yang tidak tajam. Apa arti “Aneh” menurut dia semakin menggelitikku unttuk membuktikannya.

Langit mulai temaram! Ponsel yang sengaja aku getarkan berkali kali bergetar dari seseorang yang mengirim dan menelphone. Aku tahu siapa!

Adzan mulai bersahutan! Aku menepi dan memesan secangkir kopi pahit. Kusulut sebatang rokok keretek light kegemaranku, aku menghisapnya dalam dalam sampai sampai aku mau tersedak kemudian menghembuskannya ke udara!

Lega!

Lega telah meninggalkan R.
Lega telah membuat R semakin “ilfil” dengan keadaan.
Lega aku bisa berpetualang sendiri ke sebuah kota yang belum aku pernah mengunjunginya.
Lega aku bisa berkendara motor sendiri di malam hari menembus desa, sawah, hutan, yang aku tidak tahu aku dimana.
Lega aku bisa menemukan jati diriku sebenarnya.
Lega aku bisa menerima keadaan. Lega aku bisa melepaskan R.
Lega aku bisa menemukan apa yang membuatku “Lega”.

Catatan:
Cerita ini asli 100% nyata! Bahkan imej garam itu adalah oleh oleh aku mengunjungi Bleduk Kuwu di Purwodadi yang berkhasiat sebagai detox jika direndam dalam air hangat dapat mengeluarkan racun dan kimia lain dalam tubuh yang merugikan.

Ya, seperti saat aku menulis ini aku rendamkan kaki kedalam ember berisi air hangat yang dicampur dengan garam itu, ada sebuah perasaan dimana merasa relax dan terlepas dari racun tubuh dan jiwa yang acapkali menggerogoti.


I want to be Happy, I want you to be Happy Too

Gudluck R. I am happy for you. I don't unfriend your facebook account. I Just to blocked you from me seeing you on my walls.

Tha'ts make me happy. At least aku tidak berpura-pura dengan kamu atau bahkan dengan diriku sendiri.


DJ, Life goes on

kepareng,